Senin, 14 Desember 2015

Santri Juga Bisa Berkarya!


Sebagian orang menganggap bahwasannya santri itu cenderung dianggap kudet, gaptek dan label – label kampungan lainnya. Namun, pada kenyataannya itu bertentangan di zaman yang sudah modern ini. jangan salah lho, santri juga bisa lebih intelek dalam berkreasi terutama dalam bidang sastra. Masih nggak percaya ? tapi ini fakta bukan sekedar cerita!
Aksi Santri dalam Sastra
            Mengkaji kitab, nundutan, dan apa pun istilah-istilah yang sering terdengar tentang santri yang membosankan. Tentunya, tidak menyurutkan semangat mereka dalam berkreatifitas. Walau dianggap kudet, tapi mereka bisa merangkai kata-kata yang indah dan nyastra, yang mampu menghipnotis para pembacanya.
            Ide-ide atau pun gagasan yang mereka tuangkan tentang cerita mereka di pesantren menjadi ciri khas tersendiri dalam karyanya. Pasalnya, tema-tema tersebut sekilas terlihat jenuh dan tak menarik untuk dibaca. Namun, kelihaian mereka dalam mengolah kata tadi membuat bacaan tersebut renyah untuk di santap. Selain itu, cerita-cerita sederhana yang mereka tuangkan mengandung kesan tersendiri di hati para pembacanya dan juga banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang mereka campur adukkan sehingga menghasilkan karya-karya yang bermutu, yang tidak hanya sekedar bacaan saja.
            Dan perlu kalian ketahui, forum menulis matapena itu sendiri juga berkembang di kalangan para santri yang gemar menulis. Bukan hanya itu, matapena juga telah menerbitkan banyak buku, yang mana penulisnya itu dari kalangan santri, seperti : santri semelekete,  bola-bola santri, santri baru gede, dilarang jatuh cinta dan lain sebagainya.
Santri Juga Bisa Berkarya !
            Meskipun, santri punya segudang dan seabreg kegiatan dari mulai bangun tidur dan tidur lagi, namun mereka tetap masih bisa berkarya dan berkreatifitas ria.
             Bukan hanya buku saja yang bisa mereka hasilkan, dengan kreatifitas mereka yang nggak ala kadarnya, mereka mapu menggebrak suatu terobosan baru di dunia perfilman. Contohnya  Ahmad fuadi dengan bukunya Negri 5 Menara, beliau dapat mengangkat karyanya yang berlatar belakang santri itu ke layar lebar.
            Tema yang diambil juga cukup sederhana, yaitu tentang kisahnya saat menjadi santri di pondok modern Darussalam Gontor. Film yang di buatnya itu  menarik apresiasi banyak pihak baik itu dari kalangan santri maupun kalangan umum. dan karyanya itu membuatnya dikenal banyak orang serta mendapatkan banyak penghargaan dari berbagai macam media.
            Selain itu, jika dilihat dari latar belakang kebanyakan penulis di Indonesia, zaman sekarang ini dunia perbukuan maupun sastrawan justu banyak yang lahir dari dunia pesantren. Sebut saja Habiburrahman El-Shirazy, Irfan Hidayatullah yang merupakan mantan ketua FLP pusat, dsb. Hal ini karena secara tidak disadari, karena pesantren telah memberi pelajaran mengenai budaya membaca dan menulis, selain itu beragam kisah khas pesantren pun tidak akan pernah habis untuk dipaparkan.
            Menengok sedikit ke dalam ruang lingkup pesantren, pada zaman ini sudah mulai berjamuran beragam komunitas menulis di kalangan santri. Semuanya tidak berjalan secara alamiah lagi, melainkan lebih terencana dan memiliki misi kedepan. Fenomena ini sangat positif dan tentu akan bermanfaat kelak. Karena sudah saatnya para santri yang nantinya jadi kyai juga jago menulis sehingga menelurkan banyak karya yang bisa memberi manfaat bagi orang banyak. Jadi santri tidak hanya jago berdakwah lewat lisan (yang notabene hanya bisa disimak sebentar) tapi juga bisa berdakwah lewat tulisan yag bisa menjangkau kalangan yang lebih luas lagi.
            Lebih jauh, para pelajar di negeri para anbiya yaitu Mesir, kebanyakan dari mereka adalah lulusan pesantren. Selain belajar menghafal Quran, tidak sedikit yang juga berkarya lewat tulisan. Ada yang memilih menjadi penerjemah buku maupun terjun langsung menjadi penulis buku. Jangan salah, jadi penerjemah itu sulitnya minta ampun lho, selain harus hafal terjemah tiap kata, mereka juga dituntut mampu merangkai kata-kata yang diterjemahkan agar enak dibaca, so kudu punya keahlian khusus dong.
            Hal ini selain jadi ajang pembelajaran dan pengalaman, juga berdampak positif bagi biaya hidup mereka selama menjalani studi. Sudah tentu karena pekerjaan semacam itu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sikap seperti ini bukan berjalan secara alami, melainkan sudah dicontohi oleh para dosen dan guru-guru di sana yang sering disapa syeh. Paa syeh ini memang kebanyakan tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka tidak kehilangan spirit untuk berkarya. Dengan menulis karya-karya bernuansa religi, mereka bisa berdakwah lebih luas bahkan hingga mancanegara. Masih inget dong sama bukunya Aidh Al-Qarni yang berjudul “Laa Tahzan” dan “Menjadi Wanita Paling Bahagia”. Wuih super banget ya bukunya, nggak heran kalau best seller.
            Nah, dari pernyataan di atas tadi  sudah membuktikan bahwa santri juga bisa berkarya, yang karyanya bukan hanya sekedar karya sampah yang nggak bermutu. Tetapi justru santri mampu berkarya menghasilkan karya-karya yang sangat bermutu dan sangat di butuhkan di era globalisasi ini!

            So, walaupun santri bukan berarti ngga bisa berkarya kan? Tetap berkarya dan tunjukkan kreatifitasmu! [matapena team]

Kamis, 03 Desember 2015

Tafsir Ilmiah Kisah Musa Membelah Laut Merah

Abdul Hady JM - SantriNews.com
Tafsir Ilmiah Kisah Musa Membelah Laut MerahLaut Merah di Mesir. Laut ini memisahkan Benua Asia dengan Benua Afrika (santrinews.com/dok)
KISAH Nabi Musa AS yang menyelamatkan Bani Israel dari kejaran Firaun merupakan bukti adanya keajaiban Tuhan. Namun dari sisi sains disebutkan, kisah pembelahan Laut Merah terjadi karena fenomena alam dan pengetahuan yang dimiliki Nabi Musa.
Mantan kepala Ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) National Ocean Service di Amerika, Dr. Bruce Parker, menceritakan versi ilmiah kejadian itu di laman Wall Street Journal, Kamis 11 Desember 2014, dan dikutip Vivanews. Menurutnya, Nabi Musa memiliki perhitungan tepat dalam memprediksi pasang surut yang terjadi di Laut Merah.
Kisah dalam alkitab menjelaskan jika Nabi Musa membelah laut dengan tongkatnya dan membiarkan bagian tengah laut kering. Dengan demikian, kaum Israel bisa menyeberang laut untuk menghindari kejaran tentara Firaun. Setelah semua orang menyeberang, tentara Firaun masih berada di dalam laut yang mengering itu. Tidak lama air mulai kembali menyatu dan menenggelamkan para tentara tersebut.
Banyak yang mengatakan jika secara realistis, Nabi Musa mendapatkan bantuan dari alam berupa fenomena tsunami yang muncul setelah gempa bumi terjadi di laut tersebut. Biasanya, sebelum tsunami muncul, air akan menjauh terlebih dahulu sebelum akhirnya menghantam daratan dengan arus yang tinggi dan menenggelamkan semuanya.
Dari sisi ilmiah, menurut Parker, Nabi Musa tidak benar-benar membelah laut. Bahkan bukan juga karena tsunami karena air akan kembali muncul dalam kurun 20 menit dan itu tidak memberikan kaum Israel cukup waktu untuk menyeberang.
“Nabi Musa sepertinya tidak akan bisa memprediksi kapan gempa dan tsunami datang. Namun saya percaya jika dia menggunakan pengetahuan lokalnya terhadap pasang surut air laut. Di Teluk Suez, pasang surut berarti bagian-bagian di bawah laut bisa mengering selama berjam-jam sebelum air akhirnya kembali.
Pengalamannya tinggal di padang gurun, membuat Musa dapat memprediksi kapan pasang surut itu terjadi dengan melihat bulan. Awan debu yang muncul dari kereta kuda tentara juga dijadikan perhitungan untuk mengukur waktu kedatangan tentara.
Pengetahuan ini tentu saja tidak dimiliki oleh para tentara yang tinggal di sepanjang sungai Nil. Sungai itu terhubung dengan laut Mediterania dan tidak memiliki pasang surut yang seperti laut merah.
“Dengan mengetahui kapan pasang surut laut terjadi, berapa lama dasar laut akan mengering, dan kapan air akan kembali menyatu, dijadikan sebagai perhitungan Musa dalam misi penyelamatan kaum Israel,” ujar Parker.
Dalam alkitab disebutkan jika pelarian dramatis itu terjadi saat bulan purnama penuh. Ini artinya, air surut sampai ke titik terendah sehingga air laut bisa kering dalam waktu lebih lama. Ini memberikan waktu yang cukup untuk mereka menyeberang. Jika air surut di titik terendah, ini juga berarti jika pasang berada di titik yang tertinggi sehingga sangat mungkin untuk menenggelamkan tentara Firaun.
Kisah Alkitab itu juga menyebutkan jika ada bantuan angin kencang dari arah timur yang membantu mendorong air kembali dengan kuat. Meski Parker percaya dengan kedatangan angin itu, tetap saja, ia merasa jika prediksi pasang surut air laut yang diperhitungkan Musa merupakan pertimbangan waktu yang tepat dan menjadi faktor utama misi penyelamatan itu sukses.
Penjelasan Parker ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, sejarawan kuno pda tahun 80 dan 40 sebelum masehi, bernama Artapanus, mengatakan ‘Musa telah berkenalan dengan negara ini. Dia menunggu datangnya pasang surut dan membawa orang-orang saat laut mengering’. (ahay)

Rabu, 02 Desember 2015


Ana Mustafidah, Santri yang Sukses menjadi Perancang Busana

Syaifullah - SantriNews.com
Ana Mustafidah, Santri yang Sukses menjadi Perancang BusanaAna Mustafidah (tengah) bersama rancangan usai pameran (santrinews.com/saif)
Bakat Ana Mustafidah merancang busana muslimah tumbuh sejak belia. Semakin terasah sejak di pesantren. Kini, jadi langganan Ibu Menteri dan dari luar negeri.
—-
MENJADI muslimah di zaman sekarang dituntut untuk berpenampilan menarik. Tapi hal tersebut tentunya juga ditunjang dengan pakaian yang menutupi aurat. Modis didapat, menjalankan perintah agama juga diraih.
Bagi Ana Mustafidah, ketertarikan di dunia mode pakaian muslimah sebenarnya telah dirintis sejak belia. Saat merengek minta baju untuk lebaran, ternyata sang ibu tidak langsung membelikan. Yang diberikan malah potongan kain untuk dijahit sendiri. “Saat itu saya masih berusia 12 tahun,” katanya kepada SantriNews.com, Senin 30 Maret 2015.
Ditemui di salah satu gerainya di mall City of Tomorrow (Cito) Surabaya, Mbak Ana, sapaan akrabnya menceritakan bahwa itulah awal yang melecut semangatnya sehingga menjadi perancang busana muslimah.
Bakat Terasah di Pesantren
Bakatnya semakin terasah ketika nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Bangil Pasuruan Jawa Timur. Dalam kegiatan pentas seni, imtihan atau hari besar Islam yang diiringi dengan pementasan di pesantren, maka para pengurus mempercayakan desain busaha kepadanya.
“Berbekal benang dan jarum, saya memperbaiki sendiri baju yang robek, atau sekedar iseng memodivikasi baju yang sudah ada,” kenang perempuan kelahiran Malang 7 Mei 1979 ini.
Enam tahun berada di pesantren menyelesaikan pendidikan formal dari MTs hingga Aliyah menjadi waktu yang sulit dilupakan. Tidak berhenti pada kegiatan rancang busana, istri dari H Farmadi Hasyim ini juga mengajak para santri untuk membuat aksesoris. “Dari mulai gelang, bros, pernak-pernik pentas, serta sejumlah kerajinan tangan,”ungkapnya.
Setelah menikah dan menempati kontrakan di Surabaya, anak pertama dari lima bersaudara ini semakin serius melatih kemampuan dengan mengikuti sejumlah kursus. “Sembari menjadi guru ngaji di mushalla di kawasan Margorejo, saya kursus menjahit,” katanya.
Agar ilmu serta pengalaman yang didapat segera bisa diterapkan, seluruh koleksi baju milik suami serta putra semata wayangnya dikerjakan sendiri. “Seluruh baju koleksi saya, anak dan suami adalah hasil kreasi saya sendiri,” katanya sembari tersenyum. Kalaupun harus membeli baju di luar, paling hanya jenis kaos, lanjutnya.
Akibat “promosi berjalan” ini, order pembuatan baju dari tetangga dan teman dekat mulai berdatangan. “Alhamdulillah mulai ada order menjahit pakaian,” katanya. Dan dari kepercayaan ini juga yang akhirnya membesarkan hatinya untuk serius menekuni dunia rancang busana muslimah. Di rumah yang dihuni bersama sang suami sekarang yakni di kawasan Perumahan Graha Al-Ikhlas Sidoarjo, dibukalah Majmal Boutique yang menjadi ciri khas dari karya yang dibuatnya.
Langganan Ibu Menteri
Kini namanya semakin berkibar. Sejumlah kegiatan fashion show kerap diikuti. Pemilihan putri jilbab, trend busana saat pergantian tahun atau pameran busana muslimah kerap diikuti. Dan sejumlah juara berhasil ia raih dari keikutsertaan tersebut. Karenanya tidak berlebihan kalau banyak kalangan mempercayakan pakaian muslimah kepadanya.
Tercatat beberapa anggota DPR RI memesan baju untuk berbagai acara kepadanya. Sejumlah rumah sakit Islam di Surabaya juga mempercayakan hasil desainnya. Bahkan, istri H Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olah Raga yakni Hj Sobibah Rohmah sudah lama menjadi langganan karyanya.
Tidak berhenti sampai di situ ekspansi usaha yang dilakukan. Pelanggan dari luar negeri juga dia miliki. Baik di Malaysia maupun sejumlah buruh migran di Hongkong. “Kalau pelanggan dari Malaysia karena kebetulan mereka pernah kuliah di Surabaya,” ungkapnya. Sedangkan untuk WNI di Hongkong didapat lantaran berkah sang suami yang kerap mengisi ceramah di sana,” lanjutnya.
Menjelang Ramadhan dan hari raya seperti ini, order rancangannya semakin banyak. Baik untuk pribadi maupun acara fashion show di sejumlah mall dan pertokoan modern. “Ini sedang menyiapkan rancangan untuk fashion show di Kaza Mall dan Grand City Super Mall Surabaya dalam waktu dekat,” katanya. Tidak jarang, pengasuh rubrik busana di Tabloid Modis ini juga dipercaya sebagai juri acara serupa.
Kendati jadwal dan order rancangan busana nyaris tanpa jeda, Mbak Ana masih menyisakan waktu untuk tetap mengajar di Taman Pendidikan Alquran di tempatnya tinggalnya. “Ada 30 orang yang ngaji di sini,” terangnya. Setiap hari Senin ingga Jumat tepatnya bakda Shalat Magrib, para ibu yang merupakan tetangganya rutin belajar ngaji dan Tanya jawab masalah agama kepadanya.
Di sela-sela acara ngaji, ia juga merangsang para ibu untuk memanfaatkan waktu dengan menjahit. Tidak jarang, ibu-ibu jamaahnya diajak mengikuti acara fashion show dengan menunjukkan hasil karya mereka. “Tentu kalau menang, mereka akan mendapat imbalan dari kerja kerasnya,” pungkas ibunda dari Abdun Nasir Almuhajjalin ini. (saif/ahay)

Rabu, 30 Juli 2014

Santri Membuat Pendeta Mati Kutu Dalam Waktu Kurang Dari 2 Menit

Tak sampai dua menit seorang seorang santri berhasil membuat pendeta tak berkutik. Mulanya sang pendeta mengatakan bahwa Yesus adalah satu satunya jalan keselamatan. Diluar dugaan sang santri mengiyakan, memang betul Yesus adalah satu satunya jalan keselamatan. Malahan sang santri memberikan ancaman kepada sang pendeta,.. jika pendeta menyimpang dari Yesus maka tak ada harapan kecuali Neraka. Pendeta pun menggut manggut. Tapi tak sampai dua menit kemudian sang pendeta mati kutu mendengar uraian santri bagaimana ceritanya?
PENDETA : Kalau demikian kenapa anda Islam kenapa tidak masuk Kristen?
SANTRI    : Saya Islam karena Yesus juga Islam
PENDETA : O ya? Sejak kapan Yesus Islam?
SANTRI    :  Apa yang anda tau tentang Islam?
PENDETA : Agama sesat
SANTRI    : Salah. Esensi dari Islam adalah kalimat ,"Laa Ilah illa Allah! = Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah" Siapa saja yang bersaksi bahwa Tiada ilah kecuali Allah,.. maka dia muslim. Dan saya, seperti juga Yesus adalah orang yang bersaksi bahwa Tiada ilah kecuali Allah alias Laa ilaha illa Allah
PENDETA : Siapa bilang begitu?
SANTRI    : Yang bilang begitu ya Yesus sendiri dong
PENDETA : Mana buktinya?
SANTRI    : Silakan buka MARKUS 12:29 disitu disebutkan: "Maka jawab Yesus kepadanya:“Hukum yg terutama inilah:dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan kita, ialah TuhanYang Esa“.
Anda boleh baca ayat lainnya ULANGAN 4:35 , kemudian ULANGAN 6:4, kemudian SAMUEL 7:22
Anda pendeta jebolan teologi rasanya tak pantas jika saya harus menjelaskan bahwa ucapan Yesus itu sama persis dengan kalimat, "Laa ilaha illa Allah" = "Tak ada tuhan sembahan yang lain kecuali hanya Allah saja" Jadi Yesus Muslim maka saya pun muslim. Tadi anda sendiri menegaskan orang yang selamat hanyalah yang mengikuti Yesus, Jika anda benar pengikut Yesus maka yang anda katakan pasti sama yaitu,"Laa ilaha illa Allah" Silakan anda mengucapkan kalimat yang sudah diucapkan Yesus itu sekarang. Saya menunggu,.. begitu anda mengucapkannya maka anda adalah seorang muslim. Monggo,...
PENDETA :  Mmmmm,... nganu,... mmmm,.. sebantar ya mas,.. saya kebelet pipis ....

Selasa, 29 Juli 2014

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah 'Ala Nahdhotul 'Ulama

 Bismillahirrahmanirrahim ,, ini postingan pertama saya . semoga bermanfaat :)


Bicara Ahlussunnah Wal jama'ah , NU sudah remi menyatakan bahwa paham keagamaan yg dianut adalah paham AhlusSunnah Wal Jama'ah ( ASWAJA) , namun apakah paham ini hanya milik NU sendiri ? Tentu NU sebagai Organisasi yg berjiwa besar dan selalu mengutamakan kepentingan Umat tetap jujur dan terbuka menyatakan bahwa paham ini merupakan Paham yg dianut Umat Islam ( bukan hanya NU ) , berikut kutipan mengenai arti Paham ASWAJA versi NU yg kami dapat dari Web Ponpes Attohirriyyah

Paham ASWAJA NU
Ahlusssunnah wa al-Jama’ah (ASWAJA)pada hakikatnya adalah ajaran Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, secara embrional, ASWAJA sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri. Hanya saja penamaan Ahlussunnah wa al-Jamaah sebagai sebuah nama kelompok tidaklah lahir pada masa Rasulullah, tetapi baru muncul pada akhir abad ke 3 Hijriyah. Dalam catatan sejarah pemikiran Islam, Al-Zabidi adalah ulama yang pertama kali mengenalkan istilah Ahlussunnah wa al-Jamaah. Beliu mengatakan “ kalau dikatakan Ahlussunnah wa al-Jamaah, maka yang dimaksud adalah kelompok ummat Islam yang mengikuti imam al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang ilmu Tauhid. Namun demikian rumusan al-Zabidi di atas tentu hanya satu versi dari sebuah rumusan definisi ASWAJA di antara definisi-definisi lainnya.
Salah satu ormas keagamaan yang kemudian menformulasikan ajaran ASWAJA sebagai dasar ajaran agamanya misalnya adalah Nahdhatul Ulama (NU). Kerangka pemahaman ASWAJA yang dikembangkan NU memiliki karakteristik yang khusus yang mungkin juga membedakan dengan kelompok muslim lainya yaitu bahwa ajaran ASWAJA yang dikembangkan berporos pada tiga ajaran pokok dalam Islam yang meliputi bidang aqidah, Fiqh dan Tasawwuf.
Di bidang Aqidah, model yang diikuti oleh NU adalah pemikiran-pemikiran aqidah yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari  dan Abu Mansur al-Maturidi. Pada bidang Fiqh, mengikuti model pemikiran dan metode istinbat hukum yang dikembangkan empat imam madzhab (aimmat al- madzahib al-arba’ah) yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan dibidang Tasawwuf mengikuti model yang dikembangkan oleh Abu Hamid al-Ghazali dan Al-Juwaini al-Baghdadi.
Dari berbagai hasil telaah terhadap berbagai perkembangan pemikiran di kalangan ulama Ahlussunnah wa al-Jamah dari kelompok salafusshalih dapat dirumuskan beberapa karakteristik dasar dari ajaran agama Islam berhaluan ASWAJA sebagaimana di pahami oleh orang NU. Dalam Musyawarah Nasional di Suarabaya tahun 2006, telah ditetapkan bahwa Khashaish/karakteristik doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:
1.   Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang ) dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Nahdlatul Ulama tidak tafrith atau ifrath.
2.   Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
3.   Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah).
4.   Fikrah tathowwuriyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
5.   Fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.
Pemahaman tentang paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi warga NU, Karena   Aswaja merupakan  fundamen  NU dalam membangun gerakan dan berkhidmat kepada umat. Dengan sendirinya  seluruh metode berpikir (manhaj al-fikri) dan metode pergerakan (manhaj al-haraki) warga, terutama pengurus NU dan lembaga di bawahnya, harus merujuk kepada konsep dan semangat Aswaja. 
Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam pandangan NU merupakan pendekatan yang multidimensional dari sebuah gagasan konfigurasi aspek aqidah, fiqh dan tasawwuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh, masing-masing tidak terpilah dalam trikotomi yang berlawanan. Hanya saja dalam prakteknya, dimensi ajaran fiqh (hukum Islam) jauh lebih dominan dibanding dimensi yang lain. 
Dalam pemikiran fiqh yang dianut NU konsep hukum Allah terbagai menjadi dua besaran yaitu hukum yang bersifat iqtidha (sesuatu yang sudah ada ketentuanya secara eksplisit dalam nash) dan hukum Allah yang bersifat takhyir (belum ada ketentuan dasarnya) yang biasanya disebut ibahah. Ketentuan hukum yang secara eksplisit tidak diatur jumlahnya jauh lebih banyak dan ini merupakan wilayah hukum yang bersifat ijtihadiyah dan menjadi tugas umat Islam untuk megembangkanya dengan mendasarkan pada kaidah fiqh al-hukmu ma’al al-‘illat (hukum itu didasarkan pada ada dan tidaknya alas an hukum yang mendasarinya) dengan mendasarkan pada logika sebab akibat (causality) yang biasanya mendasarkan pada kalkulasi maslahat dan madharat.
Formulasi pemahaman keagamaan NU terhadap ASWAJA yang mengikuti pola/model ulama mazdhab bukan berarti NU puas dengan situasi Jumud/stagnan yang penuh taqlid sebagaimana dituduhkan oleh kelompok “Islam Modernis”. Ide dasar pelestarian mazdhab oleh NU justeru sebagai bagian dari tanggung jawab pelestarian dan pemurnian ajaran Islam itu sendiri. Pola bermazdhab yang dikembangkan oleh NU sebagaimana hasil Musyawarah Nasional di Bandar Lampung tahun 1992 menganut dua pola yaitu bermazdhab secara qauli (tekstual) ataupun bermazdhab secara manhaji (dimensi metodologis/istinbathi).
Sedangkan basis sosial warga NU adalah masyarakat muslim yang secara keagamaan pada umumnya berbasis pendidikan pesantren baik  masyarakat pedesaan maupun perkotaan walaupun sekarang ini terjadi pergeseran yang sangat signifikan pada tataran segmen warga NU dengan lahirnya alumni-alumni perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri.
Pergeseran warga dan basis sosial NU ini pada akhirnya mempengaruhi dinamika pemikiran keagamaan didalam tubuh NU sendiri dengan corak yang beragam. Pada umumnya perbedaan corak pemahaman keagamaan ini berporos pada dua kubu yaitu kubu yang cenderung mempertahanakan tradisi bermazdhab secara qauli (materi/tekstual) dan kubu yang mencoba mengembangkan pemahaman secara manhaji (metodologis) dengan pendekatan kontekstual yang melahirkan berbagai pemikiran alternatif.
Dengan mendasarkan pada semangat inti ajaran ASWAJA tawassuth, tawazun dan tasamuh, maka strategi perjuangan/dakwah NU menuju ‘izzul islam wal muslimin lebih pada pilihan strategi pembudayaan nilai-nilai Islam. Pendekatan cultural juga bisa dimaknai upaya pembumian ajaran Islam dengan menggunakan perangkat budaya local sebagai instrumen dakwahnya dengan melakukan tranformasi social menuju ‘izzul Islam wal muslimin dengan mendasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an yaitu: surat An-Nahl: 125, Ali Imron: 104, 110, 112, Al-Anbiya: 107.
Dalam pandangan  NU perjuangan pembumian syari’at Islam adalah kewajiban agama dengan memperjuangkan sesuatu yang paling mungkin dicapai, dan sesuatu yang paling mungkin dicapai adalah yang paling tepat digunakan. Dalam konteks hukum agama (bidang muamalah) berlaku prinsip apa yang disebut dengan prinsip ‘tujuan dan cara pencapaianya” (al-ghayah wa al-wasail). Selama tujuan masih tetap, maka cara pencapaiannya menjadi sesuatu yang sekunder. Tujuan hukum akan selalu tetap, tetapi cara pencapaianya bisa berubah-rubah seiring dengan dinamika zaman.   
Prinsip dasar yang dikembangkan NU dalam merespon arus perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan khususnya berkaitan dengan problematika hukum kontemporer (al-waqi’iyyah al-haditsah) dan perubahan kebudayaan, NU berpegang pada kaidah al-Muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah yaitu memelihara tradisi lama yang masih baik (relevan) dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Proses dialektika Islam dengan budaya lokal Indonesia yang menghasilkan produk budaya sintetis merupakan suatu keniscayaan sejarah sebagai hasil dialog Islam dengan system budaya local. Lahirnya berbagai ekspresi-ekspresi ritual yang nilai instrumentalnya produk budaya lokal, sedangkan muatan materialnya bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang wajar dan sah adanya dengan syarat akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai fundamental dari ajaran agama.
Penulis Dr. Ridwan, M. Ag (Ketua LAKPESDAM NU Kabupaten Banyumas dan Ustadz Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas.)

Bagi yang merasa warga N.U , monggo di bagikan artikel ini :